Arsip

Arsip untuk Maret, 2011

Khazanah

Oleh Eko Endarmoko

Percakapan berikut ini terjadi di Kedai Tempo, Teater Utan Kayu, sekian tahun silam, pada satu senja. Setelah cukup lama ngobrol dan terang matahari mulai melindap, seorang kenalan berkewarganegaraan asing yang lumayan fasih berbahasa Indonesia berkata, “Maaf, ya, saya mau berpulang. Anda masih ingin meninggal di sini?” Senyumnya terkesan sedikit nakal. Saya kira ia ingin berolok-olok, betapa pelik baginya berbahasa Indonesia. Sebenarnyalah ia tahu kata “berpulang” dan “meninggal” dalam kalimatnya dapat diterima dari segi tata bahasa, tapi tidak dengan kacamata semantik.

Baca lanjutannya…

FacebookTwitterShare
Kategori:Cakrawala Tag

Bahasa Menunjukkan Bangsa

Oleh Eko Endarmoko

PERIBAHASA yang dijadikan judul tulisan ini di atas mengandung arti perangai dan tutur kata menunjukkan tabiat seseorang. Tetapi bisa juga berarti, baik-buruk kelakuan menunjukkan tinggi-rendah asal atau keturunan seseorang. Tak kita dapatkan arti bahasa, dan bangsa, sebagai yang jamak kita mengerti di situ, sebab bukan peribahasa namanya kalau ia berterus terang.

Bangsa dalam arti pertama peribahasa itu merujuk pada akhlak, pekerti, watak. Sedang dalam arti kedua tentulah menunjuk pada derajat atau martabat keluarga. Tabiat adalah sebuah nilai yang diperoleh seseorang dengan usaha, yang didapat berkat dan lewat proses belajar. Derajat keluarga—di sini boleh dibaca sebagai kehormatan atau nama baik keluarga—adalah sesuatu yang terberi, turun-temurun. Kedua pengertian peribahasa di atas ada dalam kamus bahasa Indonesia susunan Pusat Bahasa, dengan catatan, arti yang kedua terletak di dalam tanda kurung, yang dalam kamus Poerwadarminta justru menjadi penjelasan. Poerwadarminta tidak, atau katakanlah belum, mencantumkan arti yang pertama.

Pengimbuhan makna baru pada peribahasa (yang berasal dari Poerwadarminta) tadi oleh Pusat Bahasa sebenarnya menyiratkan ada sesuatu yang berubah pada masyarakat kita. Dulu tampaknya orang dihormati lebih karena darah dan jabatannya, dan penghormatan itu dijaga baik-baik antara lain lewat norma baku yang mengatur perilaku mereka. Status sosial mendapat tempat terhormat, malah menjadi acuan dalam bertingkah laku. Seakan-akan segala yang baik dengan sendirinya menjadi milik kalangan atas, dan keburukan mestilah berasal dari orang bawah.

Ganjil, memang. Apalagi dari hari ke hari kian kentara betapa kalangan atas justru bisa berlaku lebih culas ketimbang rakyat jelata. Sama sekali tak ada hubungan antara ulah dan darah, antara pekerti dan pangkat. Baik-buruknya laku ternyata bukan ditentukan oleh derajat melainkan oleh tabiat. Lebih penting lagi, kini orang cenderung tak lagi dilihat dari asal-usul dan kedudukannya, melainkan dari fiilnya.

Bahasa menunjukkan bangsa. Ulah seseorang menunjukkan tabiat atau adabnya. Tapi saya kira juga tak salah bila dibaca, bahasa menunjukkan adab seseorang. Bahwa cara berbahasa seseorang mencerminkan kepribadiannya. Adab rada dekat dengan akal, dengan kemampuan mengelola nalar. Sejak tadi tak sabar saya mengutip kalimat pertama sebuah buku tentang filsafat bahasa terbitan Yogyakarta (1998) seperti ini:

Sejak tumbuh berkembangnya paham filsafat positivisme logis dari lingkungan Wina, dengan deklarasi universal tantang [sic!] ilmu pengetahuan, tidak mengherankan jikalau pengaruh sains terutama ilmu-ilmu pengetahuan alam terhadap ilmu-ilmu sosial humaniora cukup kuat bahkan menguasainya.

Para pemerhati bahasa Indonesia tak pernah jemu menyodorkan pelbagai masalah kebahasaan seperti itu, menunjukkan di mana letak ketidakberesannya. Tapi simaklah, soal yang mereka angkat selalu berkisar pada soal yang sama, sejak dulu. Puluhan tahun lewat sudah, tapi mereka masih saja “terpaksa” cerewet terhadap hal amat remeh, dari pemakaian huruf besar sampai bangun kalimat. Bisa anda bayangkan seorang penulis bermasalah dengan bangun kalimat? Itu sama saja dengan orang yang ingin ikut bersepeda santai tapi tak bisa naik sepeda.

Amat tak sepadan, sebetulnya, usaha pemerhati bahasa Indonesia itu jika dibanding dengan praktik berbahasa oleh masyarakat luas. Mengingat kembali pepatah “Bahasa menunjukkan bangsa”, kini kita sangsi, dapatkah cara berbahasa orang diperbaiki selama adab yang bersangkutan tak dibenahi?

 

Pernah dimuat Tempo, 16 Juli 2006

FacebookTwitterShare
Kategori:Cakrawala Tag