Arsip

Arsip untuk Desember, 2011

hipokrit

hi.po.krit adjektiva

Sinonim:

munafik, nifak (Arab), pura-pura; inkosisten

Contoh Penggunaan:

Mereka bersikap hipokrit itu adalah untuk menjaga nama baik keluarga.

Etimologi:

hypocriet (Belanda)

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

hinggut

hing.gut, meng.hing.gut verba

Sinonim:

menggoyang, mengguncang

Contoh Penggunaan:

Saya rasa letih apabila terpaksa menghinggut bahu dan bertutur seperti penghidap penyakit “Fei Mao”.

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

hilal

hi.lal nomina

Sinonim:

bulan sabit

Contoh Penggunaan:

Sampai saat ini di dunia tidak ada teleskop yang mampu melihat hilal dengan ketinggian di bawah empat derajat.

Etimologi:

hilāl (Arab)

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

hermetis

her.me.tis adjektiva

Sinonim:

kedap udara

Contoh Penggunaan:

Pengalengan didefinisikan sebagai suatu cara pengawetan bahan pangan yang dipak secara hermetis (kedap terhadap udara, air, mikroba, dan benda asing lainnya) dalam suatu wadah, yang kemudian disterilkan secara komersial untuk membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk.

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

Tesamoko: Aplikasi daring penyusunan tesaurus

Oleh Ivan Lanin

Tesamoko adalah aplikasi daring untuk kolaborasi pembuatan tesaurus bahasa Indonesia oleh tim revisi Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI) yang edisi pertamanya dibuat oleh Eko Endarmoko (EE). Nama “Tesamoko” merupakan akronim dari “Tesaurus Eko Endarmoko” dan semata dipilih karena sifatnya yang unik. Aplikasi ini menggantikan cara kerja pembuatan tesaurus secara tradisional yang menggunakan coretan dan catatan di kertas. Makalah ini menjelaskan proses pembuatan aplikasi tersebut.

Perancangan

Kebutuhan aplikasi dikumpulkan berdasarkan analisis terhadap dokumen Microsoft Word naskah TBI edisi pertama yang sudah siap naik cetak. Hasil analisis dituangkan dalam bentuk pola yang kemudian dikonfirmasi kepada pembuat edisi pertama, EE, dalam bentuk wawancara dan komunikasi via surel. Pola yang ditangkap adalah sbb.

  1. Lema disusun secara alfabetis menurut kata kepala (headword). Kata kepala yang berupa homonim dianggap sebagai lema sendiri.
  2. Setiap lema dapat memiliki sublema dalam bentuk kata berimbuhan maupun kata majemuk.
  3. Setiap entri (lema dan sublema) dipisahkan dengan baris baru serta terdiri dari satu atau lebih polisem.Jika satu entri mengandung lebih dari satu polisem, setiap polisem ditandai dengan angka romawi di depannya.
  4. Setiap polisem dapat terdiri dari gugus makna yang dipisahkan dengan tanda titik koma.Sinonim dalam suatu polisem atau gugus makna dipisahkan dengan tanda koma.
  5. Satu entri atau polisem dapat memiliki atributdalam bentuk singkatan atau akronim yang menerangkan.

a. kelas kata, mis. n (nomina) atau v (verba),
b. asal serapan, mis. Ar (Arab) atau Jw (Jawa),
c. ragam/penggunaan, mis. ark (arkais) atau cak (cakapan), dan
d. bidang istilah, mis. Isl (Islam) atau Dok (Kedokteran).

Analisis dan diskusi lebih lanjut dengan tim TBI menghasilkan beberapa persyaratan sistem berikut:

  1. Prinsip resiprokal, yaitu bahwa suatu sinonim pada suatu entri juga mencantumkan entri tersebut sebagai sinonimnya. Misalnya, jika entri badan mencantumkan jasad sebagai salah satu sinonimnya, entri jasad pun harus mencantumkan badan sebagai salah satu sinonimnya.
  2. Isian untuk antonim, hipernim (hiponim), serta holonim (meronim) yang masing-masing juga dapat dikelompokkan menurut polisem dan gugus makna untuk setiap entri.
  3. Sarana untuk memasukkan komentar atau catatan pada suatu entri. Hal ini diperlukan karena dalam proses entri suatu lema, tim TBI sering memerlukan dialog untuk mencapai konsensus. Di samping itu, catatan ini dapat juga dipakai sebagai sarana untuk memasukkan rujukan.
  4. Log perubahan untuk mencatat semua perubahan yang dilakukan terhadap data. Tujuan log ini adalah sebagai alat audit dan juga sebagai sarana untuk dapat mengembalikan suatu kesalahan yang mungkin terjadi.

Tesamoko, aplikasi daring penyusunan tesaurus, dirancang dari hasil analisis awal tersebut. Sistem daring (dalam jaringan, online) dipilih untuk memudahkan koordinasi karena sifat media internet yang dapat diakses dari mana pun dan kapan pun (realtime). Sebagai platform pemrograman dipilih bahasa skrip PHP karena banyak dipakai untuk sistem daring, sedangkan sebagai basis data dipilih MySQL karena ringan dan cukup dapat diandalkan. Metode pengembangan yang digunakan adalah semi-RAD (rapid application development) dengan implementasi cepat dan pengembangan bertahap berdasarkan masukan dari pengguna.

Penerapan

Proses pembuatan sistem secara sederhana dapat dibagi menjadi tiga proses yang dilakukan secara siklus, yaitu:

  1. Perancangan dan pembuatan struktur data.
  2. Pembuatan skrip program.
  3. Pengujian dan perbaikan.

Data awal untuk mengisi sistem dimigrasi dari sumber data naskah siap cetak TBI edisi pertama. Proses migrasi dilakukan berdasarkan pola yang sudah dijabarkan di atas. Setelah migrasi, dilakukan pembersihan data karena beberapa hal, a.l.:

  1. Adanya pemenggalan manual dengan tanda hubung (-).
  2. Adanya pola yang tidak tertangkap oleh analisis awal, misalnya penulisan dengan tanda garis miring (/) untuk sinonim berupa kata majemuk yang memiliki salah satu unsur sama (mis. banyak/lebar mulut).
  3. Adanya salah tik pada naskah.

Seperti telah diuraikan di atas, proses pembuatan sistem dilakukan secara bertahap sesuai masukan dari pengguna dan perkembangan kebutuhan. Sejak purwarupa pertama diluncurkan pada 8 Agustus 2010, fitur yang sudah diimplementasikan pada Tesamoko adalah sbb.:

  1. Formulir penyuntingan entri tesaurus sesuai dengan persyaratan yang telah dijabarkan.
  2. Statistik jumlah entri berdasarkan berbagai penggolongan (alfabet, dasar/turunan, kelas kata, ragam, asal serapan, dll.).
  3. Komentar terhadap suatu entri.
  4. Log perubahan entri.
  5. Pengaturan jenis pengguna dengan tingkat akses yang berbeda: admin, kurator, editor, dan peninjau.
  6. Informasi dan formulir penyuntingan makna entri berikut polisem dan gugus maknanya.
  7. Informasi dan formulir penyuntingan sumber rujukan dan etimologi entri.
  8. Daftar entri yatim, yaitu entri (A) yang sudah dicantumkan sebagai sinonim suatu entri (B), namun belum dibuatkan entrinya (A) dalam sistem. Pada tampilan sistem, entri A ini ditandai dengan warna merah dalam daftar sinonim entri B.
  9. Penandaan entri piatu, yaitu entri (A) yang mencantumkan entri lain (B) sebagai sinonim, namun entri sinonimnya itu (B) belum mencantumkan entri tersebut (A) dalam daftar sinonimnya. Pada tampilan sistem, entri A dicantumkan pada bagian tersendiri pada entri B.
  10. Pemberian bintang untuk entri-entri yang memerlukan perhatian khusus.

Selain fitur-fitur utama tersebut, ada beberapa fitur minor yang tidak disebut secara khusus dalam daftar di atas seperti balon informasi pada singkatan atau akronim atribut, pilihan untuk menampilkan atau  menyembunyikan suatu informasi, dll.

Penyempurnaan

Sebagai suatu sistem yang dikembangkan secara bertahap, Tesamoko tidak luput dari kekurangan. Beberapa penyempurnaan yang dapat dan akan diterapkan pada Tesamoko dicantumkan di bawah ini:

  1. Statistik aktivitas individu pengguna yang digunakan untuk memantau kinerja dan kemajuan proses penyuntingan. Dipikirkan juga untuk menggabungkan fitur ini dengan penetapan tenggat waktu pengerjaan.
  2. Pembuatan daftar khusus untuk entri piatu (entri yatim sudah ada) untuk memudahkan proses penyuntingan. Perbaikan untuk entri yatim atau piatu ini seyogianya dapat dilakukan oleh sistem, namun penerapannya terhambat oleh ketaksaan homonim, polisem, dan gugus makna yang belum bisa diproses oleh mesin.
  3. Penyempurnaan sistem entri kamus yang memuat makna dan informasi lain yang tidak masuk dalam cakupan suatu tesaurus.
  4. Penyertaan rujukan dalam bentuk bibliografi atau korpus penggunaan suatu entri karena sumber rujukan dan contoh penggunaan merupakan bukti ilmiah untuk suatu karya leksikografi. Korpus juga dapat menjadi sumber rujukan untuk menentukan perubahan makna suatu entri.
  5. Penerbitan hasil kerja tim penyunting dalam bentuk tesaurus atau kamus daring yang dapat diakses oleh publik dengan fasilitas sesuai kebutuhan.

Tiada gading yang tak retak. Meskipun demikian, Tesamoko telah menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi informasi dalam leksikografi sangat membantu proses kerja secara umum. Dengan penyempurnaan berkelanjutan dan dukungan dari bukti linguistik berupa korpus, Tesamoko diharapkan akan menjadi alat bantu pembuatan tesaurus (dan kamus) yang baik, bermanfaat bagi penggunanya, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

11 November 2011

Daftar pustaka

Atkins, S., & Rundel, M. (2008). The Oxford Guide to Practical Lexicography. Oxford: Oxford University Press.

Chaer, A. (2007). Leksikologi & Leksikografi Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta

Kurnia, N. S. (2007). Pemanfaatan Korpus dalam Pengajaran dan Pemelajaran Bahasa. PELBBA 18: Pertemuan Linguistik Pusat Kajian Bahasa dan Budaya Atma Jaya (hlm. 1-23). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Lauder, A. (2010). Data for lexicography: the central role of the corpus (pre-publication draft). Wacana.

Setia, E. (2005). Semantik dan Leksikografi dalam Perkamusan. ENGLONESIAN: Jurnal Ilmiah Linguistik dan Sastra, Vol. 1 No. 1 (hlm. 19-37)

 

Ivan Lanin, Magister Teknologi Informasi Universitas Indonesia, Tim Teknis Tesamoko.

ivan@lanin.org

 

FacebookTwitterShare
Kategori:Kisah Tag

helat

he.lat, per.he.lat.an nomina

Sinonim:

acara, kenduri, peralatan, perjamuan, selamatan; pesta, resepsi

Contoh Penggunaan:

Sejak Festival Film Indonesia 2011, FFI kini dibagi dalam dua perhelatan besar yaitu Anugerah Piala Vidia dan Anugerah Piala Citra FFI 2011.

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

hayat

ha.yat nomina

Sinonim:

hidup, kehidupan; jiwa, nyawa

Contoh Penggunaan:

Namun di akhir hayatnya, kesederhanaan Mbah Maridjan tetap terpahat jelas hingga liang lahat.

Etimologi:

ḥayāh (Arab)

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag

Memamah Bahasa Indonesia, Mengenang Pak Anton M. Moeliono

Oleh Eko Endarmoko

Pernah saya dengar satu kelakar, lengkap dengan semacam kesimpulan, tentang Pak Anton Moedardo Moeliono, begini. Konon dalam rumah tangga Pak Ton, semua anggota keluarga saling berkata-kata dalam bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia yang benar dalam arti sebenar-benarnya. Demikian santun dan tertibnya bahasa Indonesia yang dipakai tiap anggota keluarga itu berkomunikasi satu sama lain sampai-sampai, inilah kesimpulannya, mengundang tawa alias terdengar lucu, terkesan mirip sinetron, tidak alamiah, malah cenderung mengada-ada.

Melalui tulisan sederhana ini saya sama sekali bukan bermaksud menyajikan analisis canggih tentang aspek pragmatik bahasa—satu bidang yang saya kira juga menjadi minat Pak Ton, yang kita tahu mencakupi pula masalah teoretik kebahasaan yang luas, utamanya bidang semantik, lebih khusus menyangkut soal-soal yang bertalian dengan tata istilah. Katakan saja tulisan ini semacam gumam atau gerendengan mengenai beberapa kasus kebahasaan yang menarik bagi saya. Soal-soal yang saya comot serabutan seingatnya itu kemudian saya pentangkan sedemikian rupa dengan latar belakang berupa pandangan atau pendirian Pak Ton dulu di sana yang coba saya baca kembali kini di sini. Namun, jelas ini bukanlah kritik, melainkan lebih merupakan cara saya menyerap (“remah-remah” bahasa Indonesia melalui) Pak Ton.

Dari seloroh tentang pemakaian bahasa Indonesia dalam rumah tangga Pak Ton tadi, setidaknya dua hal masih belum terang buat saya. Barangkali tidak relevan di sini, namun perkenankanlah saya utarakan juga. Pertama, anekdot tadi tidak atau belum memberi gambaran kepada kita apakah bahasa Indonesia di dalam rumah tangga Pak Ton sudah seperti yang diidamkanoleh banyak orang, setidaknya oleh saya, yaitu berwatak egaliter, artinya tidak terutama dipakai demi melayani keperluan masing-masing orang di sana seturut hierarki dalam keluarga (sebab, betapapun, bagi saya Pak Ton sangat sadar akan status diri ini, satu sikap yang terpantul dalam hampir semua pemikirannya, termasuk dalam soal kebahasaan). Dan kedua, ini tidak kurang penting saya kira, apakah cerita burung itu sungguh benar adanya. Terus terang saya rada ragu, terutama karena kisah tersebut bertolak belakang secara sempurna dengan apa yang pernah Pak Ton ajarkan kepada saya di ruang kuliah berpuluh tahun silam—bahwa bahasa berwatak situasional, dan sifat itu niscaya pada bahasa. Dan saya kukuh memegang pendapat tersebut. Sampai hari ini.

Contoh-contoh yang Pak Ton utarakan demi menguatkan premis “bahasa situasional” tadi, kini sangat mungkin sudah jadi barang basi alias klise. Di warung kopi, kita cukup mengatakan, “Kopi satu, Bang!” Tidaklah perlu, malah berlebihan dan tidak pada tempatnya, bila di situ kita mempergunakan kalimat yang runtut, lengkap, dan baku. Bayangkanlah pula ada seorang guru besar Fakultas Ilmu Budaya mempergunakan ragam bahasa yang jamak dipakai pada acara penganugerahan gelar akademik di balairung fakultas saat ia berbelanja ikan segar di pasar tradisional. Sebaliknya, di dalam ruang kuliah, dimaui atau tidak tiap orang seolah dibimbing oleh semacam kemestian mempergunakan bahasa yang santun, dan tertib. Malah sering, tanpa disadari, juga tampak pengaruhnya pada sikap tubuh, terutama di kalangan mahasiswa dalam penghadapannya dengan dosen.

Itulah kurang lebih apa yang saya tangkap tentang watak situasional bahasa, yaitu senantiasa diatur oleh, atau bergantung pada, situasi yang melingkunginya. Kini kita tahu, semacam kemestian tadi adalah norma, kaidah, adat, kesepakatan atau konvensi yang dibangun, dirawat, dan diwariskan secara bersama-sama, dan turun-temurun, di kalangan khalayak pendukung bahasa yang bersangkutan. Ia adalah bagian dari kebiasaan, adat-istiadat, tradisi, leluri, yang dalam kenyataan berbahasa melahirkan beraneka ragam atau laras bahasa. Di titik inilah kita dapat melihat bahwa soal bahasa ternyatalah bukan semata soal benar-salah dalam arti formal.

Belakangan hari terkadang saya suka bertanya-tanya, di dalam mengajar (Semantik), apakah Pak Ton tahu dan sadar bahwa apa yang ia sampaikan kepada kami, mahasiswanya, sesungguhnya lebih dari sekadar materi berupa segugus ilmu/teori tentang Semantik? Jadi, bukan hanya menyangkut tali-temali makna seperti diurai,  antara lain oleh C. K. Ogden, I. A. Richards, Geoffrey Leech, dan John Lyons —nama-nama yang pertama kali saya dengar di kelas Pak Ton itu (juga oleh D. A. Cruse, yang fotokopi satu bukunya Pak Ton hadiahkan kepada saya bertahun kemudian, setelah Tesaurus Bahasa Indonesia saya terbit—maka saya menduga Pak Ton berharap buku Cruse itu bermanfaat, siapa tahu ada rencana saya merevisi tesaurus itu—waktu kami berjumpa di Atmajaya, kalau tidak salah pada acara diskusi soal Undang-Undang Kebahasaan).

Saya kira tanda tanya tadi muncul, sebab saya pikir Semantik dekat dengan filsafat—mungkin itu menjelaskan mengapa mata kuliah ini diajarkan pada jenjang akhir, setelah berturut-turut Pengantar Linguistik Umum, Fonologi, Morfologi, dan Sintaksis. Dan filsafat niscaya berimpitan dengan, atau sulit menghindar dari, urusan nilai-nilai, dalam hal ini nilai-nilai moral atau etik. Apalagi sama-sama kita mafhumi, di kemudian hari studi tentang makna (dan bahasa pada umumnya) tampak kian mendekat ke, atau malah menjadi bagian dari, disiplin filsafat. Tengok saja apa yang telah dikembangkan lebih jauh, antara lain oleh Ludwig Wittgenstein, Charles Sanders Peirce, Roland Barthes, dan, tentu saja, Jacques Derrida dengan teori dekonstruksinya yang amat masyhur.

Saya hanya dapat menerka-nerka, Pak Ton kiranya paham bahwa Semantik,  sampai di satu titik, bersintuhan dengan tata nilai (moral), sekalipun persintuhan itu tidaklah langsung, hanya tersirat, atau implisit belaka. Di balik studi mengenai rasa bahasa, umpamanya, kita dapat menangkap sayup-sayup suara moral tersebut. Bukankah ini berpaut dengan soal kepatutan hubungan orang per orang? Diksi, pemilihan seseorang atas satu di antara senarai kata yang punya makna sama, menurut saya, antara lain didasarkan atas pertimbangan atau nilai moral. Apakah sebutan yang kita terakan kepada seseorang yang secara sosial terpandang namun, entahnyata-nyata atau tidak, terindikasi kuat melakukan tindak korupsi atau plagiarisme? Apa pun yang kita pilih, sebutan kita itu tak pelak mencerminkan, dalam takaran tertentu,  penilaian moral kita terhadap oknum tersebut.

Tadi saya katakan, soal bahasa bukan semata soal benar-salah dalam arti formal. Urusan benar-salah dalam berbahasa ini sepenuhnya masuk ke dalam wilayah tata ejaan. Tidak ada kompromi, kata depan mesti dituliskan terpisah dari kata yang menyertainya, sedang awalan harus dituliskan bersambung. Tidak menuruti kaidah ini mutlak salah. Namun, saya tetap percaya bahwa bagian terbesar dari kaidah (ber)bahasa adalah masalah etiket, soal kepatutan, bukan melulu soal benar-salah. Mahasiswa yang ber-“elu-gue” dengan dosennya tidak bisa dengan serta-merta kita tuding salah. Ia “hanya” tidak menuruti kebiasaan, menyimpangi adat berbahasa.  Soalnya barangkali dapat kita padankan dengan kasus etik lain, etiket makan, umpamanya.  Di gerai makan pizza, berbeda dari pengunjung Melayu umumnya yang menyantap penganan luar negeri itu dengan pisau dan garpu, saya malah memberi contoh kepada, dan diteladani sampai sekarang oleh, anak-anak saya: memakannya langsung dengan tangan (sudah tentu setelah mencuci tangan), sebagaimana kita menyantap pisang goreng, sebagaimana laku itu dijalankan juga oleh orang Italia kebanyakan di tanah leluhur penganan tersebut. Setidaknya begitu yang pernah saya dengar dari Antonia Soriente.

Saya kira ada saja bekas mahasiswanya yang masih ingat, berulang kali Pak Ton mengatakan, mengamati cara seseorang berbahasa kita dapat memperkirakan status sosial orang itu atau dari golongan mana dia berasal. Siapa dari kita dapat mengatakan dengan tegas bahwa ragam bahasa pasar “salah”, dan ragam seperti dipakai di ruang kelas, atau di kantor, atau di barak militerlah yang “benar”?Pemahaman mengenai ranah pemakaian bahasa inilah yang kemudian melahirkan ungkapan “bahasa yang baik dan benar”. “Baik” itu sesuai dengan situasi atau konteks, dan “benar” itu sesuai dengan kaidah kebahasaan yang baku. Atau menurut contoh makan pizza tadi, siapa pengunjung lain di sana yang dapat mengatakan bahwa cara kami makan salah dan cara dialah yang benar? Marilah sebentar kita berandai-andai. Barangkali dia, si pengunjung yang bersantap dengan pisau dan garpu itu, berkata dalam hati bahwa kami “kampungan”. Baiklah. Kami, atau saya, akan balik berkata, juga dalam hati, bahwa dia “snobis”.

Tengoklah. Tidakkah kata-kata “kampungan” dan “snobis” itu menyertakan satu sikap yang berdiri di atas satu keyakinan moral tertentu? Yang ingin saya katakan dengan semua ini, di jalur berbeda pada jalan bahasa yang sama, adat kita berbahasa di pasar, di kantor, di rumah, di mana-mana tempat boleh dikata niscaya berbeda-beda. Tidak ada yang lebih benar antara satu dan lainnya. Namun, yang terang, sungguh tidak lazim bila penggunaannya itu saling dipertukarkan. Pembeda paling gampang dikenali adalah sifat resmi atau tak resmi. Resmi, misalnya, di kantor atau di ruang kuliah. Tak resmi,  umpamanya, di rumah atau di lingkungan pergaulan sehari-hari.

Jadi, apa yang salah bila di lingkungan rumah tangga Pak Ton seisi rumah saling berbicara dalam bahasa Indonesia baku, bahasa Indonesia yang benar dalam arti sebenar-benarnya?

Sekalipun cerita kelakar tadi patut dicurigai, tidak dapat dimungkiri adalah kenyataan bahwa Pak Ton terkenal sangat cermat di dalam berbahasa, tutur maupun tulis, terutama dalam soal memilih kata. Ini dengan segera mengingatkan saya pada mantan menteri sekretaris negara zaman Orde Baru, Moerdiono. Dulu, di layar kaca televisi mata saya seperti tersihir mengarah ke bibir Moerdiono, menanti dengan harap-harap cemas sembari menebak-nebak, kata apa yang bakal keluar dari sana. Tapi, terang Pak Ton lebih tangkas—lebih seorang ilmuwan linguistik yang pernah disebut-sebut sebagai arsitek ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan.

Sebagai ilmuwan linguistik itulah Pak Ton boleh dibilang terdepan mengawal bahasa Indonesia dalam penggunaannya di tengah khalayak yang sedang berubah menuju alam modern. Setahu saya Pak Tonlah yang memperkenalkan beberapa kata dan istilah, seperti mangkus, sangkil, kusala (padanan award), canggih. Kemudian saya tahu, rupanya semua bentuk itu digali dari khazanah bahasa Nusantara, termasuk bahasa Sansekerta. Dan seingat saya, Pak Ton termasuk kalangan yang pertama mempertanyakan penggunaan kata “busway” yang keliru, juga, atau lebih tepat terutama, oleh Pemda DKI Jakarta. Argumen menyebut keliru jelas. Istilah dari bahasa Inggris tersebut dalam bahasa Indonesia berarti “jalan atau jalur untuk bus”. Tidak masuk akal, bukan, orang naik jalur bus? Maka pernah ada yang bilang, “orang pintar naik bus Transjakarta”.

Andai soalnya adalah—seperti telah menjadi (satu-satunya) mantra guna membela diri di kalangan jurnalis— ekonomi kata, mungkin ada yang bertanya-tanya kenapa tidak direka saja singkatan TJ/teje: naik teje, seperti dengan enak banyak orang menyebut singkatan HP/hape untuk handphone, dan bukannya TG/tege demi menyingkat telepon genggam. Bentuk singkat ponsel dari telepon seluler rupanya lebih disukai. Nah kita lihatlah, sampai di sini ilmu bahasa berhenti. Tidak ada jaminan bahwa buah dari kajian linguistik, yang serius dan sungguh mendalam sekalipun, termasuk dalam soal singkatan dan akronim, bakal diterima oleh khalayak.

Sekalipun sebagai istilah bahasa Indonesia “busway” telah ditunjukkan keliru, ada juga segolongan orang yang tidak melihatnya bermasalah. Kalimat “Ia naik busway”menurut golongan ini, tidaklah akan diartikan oleh orang yang mendengar sebagai “naik jalan atau jalur bus”. Jadi, bentuk itu  dapat diterima, sebab, itulah metonimi kata mereka, persis seperti bentuk “membaca Sapardi”. Lalu saya membayangkan sebutan “teh botol” untuk produk teh serupa yang dikemas bukan dalam botol, tapi dalam kardus/kotak.

Kita, dan banyak orang lain juga, menerima saja bentuk yang sebetulnya tidak logis itu, bukan?

 

Catatan: Judul artikel ini dicuplik dari buku Anton M. Moeliono: Dengan Bahasa Membangun Bangsa, ed. Riris K. Toha-Sarumpaet (Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia, 2011).

FacebookTwitterShare
Kategori:Cakrawala Tag

Gerombolan Tesamoko (2)

Oleh Zen Hae

Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H. B. Jassin, yang letaknya di pojok depan kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), adalah tempat yang nyaman untuk diskusi, apa pun temanya. Sejak lama tempat ini telah menjadi semacam oase baru bagi para pesastra dan pencinta sastra yang tidak bisa tampil di panggung-panggung besar di lingkungan TIM. Sebab, di sini mereka bisa membuat acara diskusi dan pementasan sastra dengan khalayak yang cukup apresiatif. Dan yang juga penting, sangat terjangkau secara ekonomis. Kantor ini merupakan tempat kedua, setelah sebuah ruang di Komunitas Utan Kayu, kami menyelenggarakan sejumlah pertemuan kerja revisi Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI).

Pertemuan tidak melulu kami manfaatkan membincangkan materi perbaikan TBI, namun terkadang juga membahas pelbagai agenda lain di seputar lingkup kerja kami. Misalnya, penggarapan media jejaring sosial demi mendekat ke khalayak yang lebih luas. Dan hasilnya antara lain berupa blog http://blog.tesaurusindonesia.com/ ini, yang salah satu isinya adalah program SehariSekata yang ditautkan ke twitter. Atau juga beberapa kali kami bertemu guna menggodog rencana lama membentuk badan untuk mewadahi kerja panjang revisi. Maka pada Jumat, 19 Agustus 2011 lalu, di hadapan notaris di kantor hukum LGS, Menara Imperium, Kuningan, Jakarta, ditandatanganilah akta pendirian Yayasan Tesaurus Indonesia (YTI) oleh Arief T. Surowidjojo, Bondan Winarno, Eko Endarmoko, dan Goenawan Mohamad.

Karena tidak, tepatnya belum, punya kantor tetap, rapat atau pertemuan kami kerap berpindah-pindah: dari Komunitas Utan Kayu, PDS H. B. Jassin, Komunitas Salihara, dan terakhir, ruang rapat kantor hukum LGS di Menara Imperium – tempat terakhir ini rupanya paling ideal untuk kerja bersama merevisi TBI — bahkan pernah pula di kediaman anggota Gerombolan, yakni di rumah Mbak Mia (Multamia RMT Lauder) di bilangan Bintaro, Tangerang, serta di rumah Miagina Amal di daerah Kebon Jeruk.

Tentu saja, setelah pembagian kerja di  Komunitas Utan Kayu tempo hari, masing-masing orang bekerja berdasarkan tanggung jawabnya secara individual. Gerombolan Tesamoko bekerja dalam apa yang kami sebut Tesamoko. Ini adalah aplikasi daring untuk kolaborasi perbaikan tesaurus bahasa Indonesia oleh tim revisi TBI. Nama “Tesamoko” merupakan akronim dari “Tesaurus Eko Endarmoko” dan semata dipilih karena sifatnya yang unik. Aplikasi ini menggantikan cara kerja pembuatan tesaurus secara tradisional yang menggunakan coretan dan catatan di kertas.

Di PDS H. B. Jassin mereka yang bertugas secara bergantian menyajikan hasil kerja mereka. Inilah saat-saat yang mengasyikkan. Sebab, perdebatan tentang sinonim atau antonim sebuah kata bisa menjadi sangat lama, tetapi di akhir selalu kami bisa mengambil kesimpulan. Kadang-kadang perdebatan bisa menemui jalan buntu, tetapi kehadiran sejumlah narasumber, seperti almarhum Amin Sweeney, Mbak Mia, Mbak Cis (Felicianuradi Utorodewo), di samping Mas Eko selaku penyusun utama, membuat perdebatan itu bisa beres.

Para juru damai ini memang bertugas mengawasi atau menjadi semacam penyelia dari proyek revisi Tesamoko. Meski tidak selalu bisa hadir setiap kali rapat (yang berlangsung dua minggu sekali setiap Kamis sore, kemudian, setelah pindah ke Menara Imperium diubah menjadi tiap Sabtu sore), tetapi peran mereka menjadi sangat penting. Mbak Mia, Mbak Cis, dan Ivan Lanin, misalnya, orang yang kerap menunjukkan sejumlah sumber rujukan yang penting untuk proyek ini — nama yang disebut terakhir itu, Ivan Lanin, penting perannya di dalam “memperkenalkan” situs-situs kebahasaan yang patut kami jadikan rujukan. Terutama dalam mencari kemungkinan pengembangan Tesamoko, bagaimana model penyajiannya di edisi kedua nanti dan rencana kerja apa lagi yang bisa dikerjakan yang berkaitan dengan proyek ini.

Untuk yang terakhir ini, tentu saja berhubungan dengan peran Ivan Lanin. Ivan yang telah mengalihkan tugasnya sebagai anggota tim revisi, kini sepenuhnya berkonsentrasi pada penyiapan bagian teknologi informasi Tesamoko. Ialah yang mengakhiri era generasi Gutenberg dan menggantikannya dengan era digital untuk Tesamoko. Ia menyusun sistem yang memungkinkan Tesamoko bisa tampil dalam versi dalam jaringan atau daring (online) dan seluruh proses penyusunannya tidak lagi menggunakan kartu-kartu sebagaimana dilakukan Mas Eko dulu, tetapi bisa langsung dalam jaringan. Tiap orang bisa bekerja kapan saja dan di mana saja. Kerja menjadi lebih mudah, tetapi di sinilah soal baru muncul.

Melalui hubungan internet seorang anggota tim yang tengah bekerja memang bisa berhubungan langsung dengan anggota lain yang kebetulan sedang bekerja secara daring juga. Tetapi, tidak semua anggota akrab dengan internet, apalagi sistem yang disusun oleh Ivan belum sepenuhnya dipahami oleh teman-teman yang lain. Akibatnya masih ada satu-dua anggota yang mengerjakannya dalam versi microsoft word, baru kemudian diserahkan kepada sekretaris redaksi yang dipercayakan kepada Rani Elsanti Ambiyo. Keadaan gaptek (gagap teknologi) ini berlangsung cukup lama, sampai akhirnya seluruh anggota tim revisi bisa akrab dan mengoperasikan sistem besutan Ivan.

Bukan hanya tim redaksi yang bekerja, ada juga, tadi sudah disinggung, tim yang kerennya bisa disebut sebagai “juru kampanye tesamoko”. Mereka adalah Bagus Takwin, Ivan Lanin, Miagina Amal, Totok Suhardiyanto, Juinita Senduk. Mereka inilah yang menyiapkan kampanye penyebarluasan Tesamoko kepada masyarakat.

FacebookTwitterShare
Kategori:Kisah Tag

hasad

ha.sad adjektiva, nomina

Sinonim:

1 cemburu, dengki, iri, keki (cakapan), khisit, panas hati, resan, sirik, timburu Sunda)

2 kedengkian, keirihatian

Contoh Penggunaan:

Dosa yang pertama muncul di bumi ialah dosa yang dilakukan Qabil karena hasad kepada saudaranya sendiri yang bernama Habil.

Etimologi:

ḥasad (Arab)

FacebookTwitterShare
Kategori:Seharisekata Tag