Arsip

Arsip untuk kategori ‘Kelanakata’

MELANCUNGKAN

me.lan.cung.kan verba

Sinonim:

1 memalsukan, memanipulasi, mempermainkan (ki), mengakali;

2 menipu

Contoh Penggunaan:

Ada dugaan bahwa ia telah melancungkan ijazahnya.

FacebookTwitterShare
Kategori:Kelanakata Tag

Pesinetron

Oleh Yanwardi Natadipura

Tidak bisa dimungkiri awalan per- merupakan salah satu imbuhan yang paling produktif dalam bahasa Indonesia, sejajar dengan fungsi dan makna imbuhan -or/-er dalam bahasa Inggris. Awalan ini begitu mumpuni hingga mampu mengimbangi derasnya perkembangan pelbagai bidang kehidupan kita, terutama dalam bidang olah raga. Ini tidak aneh karena kita mengenal kata “petinju” (profesi) untuk membedakan dari “peninju” (yang sesekali).

Dari sinilah kadang kita membentuk paradigma baru dalam sistem pembentukan kata bahasa Indonesia, yang di bagian tengah tulisan ini akan dibahas. Namun, fenomen itu bukan berarti pembentukan kata-katanya berlangsung dengan mulus.  Sering masyarakat mengusung ketidaktaatasaan bahasa Indonesia atas munculnya kata-kata berawalan pe-/per-. Mereka, misalnya, mempertanyakan mengapa “pesinetron”,  ”pesepak bola”, “pesepeda”, secara berurutan, bukan “penyinetron”, “penyepak bola”, dan “penyepeda”.

Ada baiknya, diketengahkan di sini bahwa bahasa Indonesia mengenal dua awalan yang berbeda, yakni per- (sebagian ahli bahasa menuliskannya dengan pe- dengan maksud yang sama) dan pe- (sebagian ahli bahasa menuliskannya dengan pe(N) dengan maksud yang sama). Awalan per- (dalam petinju, petani, petambak, pekebun, dll) sejajar dengan verba (kata kerja) berawalan ber- (bertinju, bertani, bertambak, berkebun, dll). Awalan per- ini mengalami pelesapan /r/  dalam kata-kata tersebut. Dapat pula dinyatakan di sini bahwa  nomina  (kata benda) berawalan per- merupakan turunan dari verba berawalan ber-, yang  memilki makna dasar atelis (belum selesai). Jadi, tidak mengherankan bila dalam bentuk turunannya—nomina berawalan per—makna teresebut masih terasa. Sekali lagi, bandingkan “petinju” dengan “peninju”.

Di sisi lain, awalan pe-,  sejajar dengan verba berawalan me-/-kan-i (pembunuh-membunuh, peninju-meninju, penusuk-menusuk, pengecat-mengecat,  pemimpin-memimpin, dll). Sebagaimana awalan me-, awalan pe- mengambil nasal (n, ng, m, ny, nge) sesuai lingkungan yang dimasukinya.

Berpatokan pada kedua paradigma tersebut, kita akan memahami mengapa ada bentuk pesinetron”, “pesepak bola”, “pesepeda”, secara berurutan, bukan “penyinetron”, “penyepak bola”, dan “penyepeda”. Akan tetapi, ada paradigma ketiga, pembentukan nomina berawalan per-, biasanya dalam konteks bidang olah raga, yang berdasarkan analogi dari kata-kata: petinju, petenis, dan sejenisnya. Dalam paradigma ini, tidak dipermasalahkan ada atau tidaknya verba berawalan ber-,  yang menurunkannya, seperti peterjun dan petembak. Verba beterjun dan bertembak, sekurangnya bagi saya, masih belum terterima. Pembentukan nomina berawalan per- ini terjadi langsung dari per- + dasarnya dengan analogi pada bentuk-bentuk petenis-petembak-pesepak bola-pesepada, dll.

Ada pula paradigma keempat yang berkaitan dengan awalan per-/pe- ini, yaitu “penatar-petatar’ dan “penyuruh-pesuruh”, yang diturunkan dari verba “menatar-ditatar” dan “menyuruh-disuruh”. Namun,  paradigma ini tidak begitu banyak anggotanya.

Banyaknya pradigma yang berkembang memperlihatkan bahwa perkembangan kosa kata bahasa Indonesia sangat pesat. Bahasa Indonesia memang unik dan luwes, dia tumbuh, terutama kosa katanya, dengan mengikuti kepesatan kemajuan di bidang kehidupan lainnya. Kita harus menyikapinya dengan bijaksana dan proporsional.

***

Tulisan ini merupakan tanggapan atas tulisan Sundea yang dimuat dalam blog ini dengan judul “Kisah Penyuruh dan Pesuruh, Penyiar dan Pesiar”.

FacebookTwitterShare
Kategori:Kelanakata Tag

Kisah Penyuruh dan Pesuruh, Penyiar dan Pesiar

14/09/2011 2 komentar

Oleh Sundea

 

“Pesuruh” dan “penyuruh” kerap hadir bersama dalam suatu konteks. Biasanya “penyuruh” berdiri sebagai subyek dan “pesuruh” menjadi obyek yang dikenai tindakan. Awalnya, saya tak merasa ada yang aneh di antara keduanya. Hingga pada suatu hari, dalam sebuah teks, saya menangkap mereka bercakap-cakap.

 

“Ada hubungan yang aneh di antara kita berdua, Pesuruh,” kata Penyuruh.

“Jangan bilang Tuan jatuh cinta sama saya,” sahut Pesuruh.

Ngawur! Bukan itu. Seharusnya nama kamu bukan ‘Pesuruh’ tapi ‘Tersuruh’. Arti ‘Pesuruh’ kan sama saja dengan ‘Penyuruh’,” jelas Penyuruh.

 

Saya terkesiap. Iya juga, ya. Mereka berdua sama-sama berangkat dari kata dasar “suruh” yang diberi awalan pe-. Di dalam konteks-konteks tertentu, kata kerja yang diberi awalan pe- ini akan menjelma menjadi kata benda. Misalnya penulis (dari kata dasar tulis) yang berarti orang yang membuat tulisan. Penabuh (dari kata dasar tabuh) yang berarti orang yang melakukan tindakan menabuh. Penyiar (dari kata dasar siar) yang melakukan siaran …

Pada kata-kata yang baru saya sebutkan tadi, awalan pe- meluluhkan huruf-huruf depan tertentu. Misalnya, huruf “t” pada kata “tulis” dan “tabuh” luluh menjadi “n” hingga terbentuklah kata benda “penulis” dan “penabuh”. Sementara pada kata “siar” dan “suruh”, “s” luluh menjadi “ny” hingga terbentuklah kata benda “penyiar” dan “penyuruh”.

Lalu bagaimana jika “s” dalam kedua kata tersebut tetap beku dan tak mau melebur bersama awalan pe- dan konteks yang disandangnya? Pada kata “siar”, “pe” dan “siar” yang tak mau lebur membuat kesepakatan sendiri. Mereka meninggalkan makna penyiar yang umum kita kenal dan bertualang jauh-jauh naik kapal pesiar. Kendati begitu, “penyiar” dan “pesiar” masih terikat tali persaudaraan karena kata “siar” yang diadaptasi dari kata “syiar”.

“Syiar” yang berleluhur kata Arab “syuur” sebetulnya mengandung makna rambu-rambu (tanda ibadah) untuk mengenali sesuatu. Pada perkembangannya, ada kerinduan untuk memperkenalkan tanda-tanda ibadah ini secara lebih luas. Lalu bertualanglah para pemuka agama untuk menyebarkan makna tanda-tanda ibadah tersebut ke segala penjuru dunia. Sejarah pun membuat “syiar” seringkali lebih dipahami sebagai penyebaran agama.

Di Indonesia, “syiar” menjelma lagi menjadi kata “siar” yang berarti …. (membuka-buka kamus Bahasa Indonesia) … lho … kok daun? Kenapa artinya jadi daun?

Baiklah. Begini saja. Jika ditarik dari kata “syiar” tadi, menurut hemat saya “siar” dalam “penyiar” dan “pesiar” sama-sama menunjukkan upaya “meluas”. “Penyiar” memperluas sebaran informasi, sementara “pesiar” memperluas ruang edarnya.  Sementara ini, kita lupakan dulu pengertian dedaunan tadi untuk (kalau ada sumur di ladang) kita bahas saja dalam artikel lain.

Sekarang kita kembali kepada “penyuruh” dan “pesuruh”. Di dalam kamus Bahasa Indonesia, “suruh” berarti “perintah atau larangan untuk melakukan sesuatu”. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, awalan pe- membuatnya menjadi kata benda. Pe- + suruh dengan “s” yang sudah luluh menjelma menjadi “penyuruh”. Sebagaimana lazimnya, “penyuruh” mengandung pengertian “orang yang melakukan tindakan memberi perintah atau larangan”. Lalu bagaimana dengan “pesuruh” ? Secara aturan tata bahasa, saya merasa kata ini ganjil dan rancu.

 

“Tuan, berarti posisi kita sama saja, dong. Seharusnya kapan-kapan saya bisa menyuruh-nyuruh Tuan juga,” kata Pesuruh yang tiba-tiba merasa harkat martabatnya terangkat.

“Heh! Enak saja. Nanti siapa yang disuruh-suruh?” Penyuruh takut posisinya tergeser.

“Yaaa … kita cari yang lain. Kan masih banyak yang bisa disuruh-suruh, Wan. Atau, kita tidak usah cari-cari obyek. Yaaa … kita menyuruh-nyuruh saja bersama-sama.”

“Bertahun-tahun jadi pesuruh membuat kamu agak dong-dong, ya. Mana bisa? Penyuruh tak ada gunanya tanpa pesur …”

“Posisi kita sekarang kan sama saja, lho, Tuan,” potong Pesuruh cepat.

“Atau tanpa siapapun yang bisa disuruh-suruh,” koreksi Penyuruh.

“Tapi kan, Tuan … eh, seharusnya saya tidak usah panggil Tuan lagi, ya?”

“Lho …? Ya masih harus, dong!”

“Kenapa …?”

Penyuruh dan Pesuruh terus berdebat hingga berhari-hari berikutnya. Saya menangkap pembicaraan mereka tanpa berusaha menengahi. Hal yang saya lakukan justru melemparkan kembali hasil tangkapan saya kepadamu.

Bahasa Indonesia memang ajaib. Kadang tidak konsisten dan tidak konsekuen, tetapi selalu tahu bagaimana berlalu lintas dengan standar keamanannya sendiri. Tanpa rambu-rambu.

Teman-teman, mungkin “pesuruh” tak tahu bahwa diam-diam saudara tirinya yang bernama “perusuh” sekarang ini tengah mengintip …

 

*ilustrasi musik thriller*

FacebookTwitterShare
Kategori:Kelanakata Tag

Ups.. Rendah Diri..

Oleh Neneng Nurjanah

Sepulangnya dari pengajian, kakak saya beristirahat di beranda rumah. Sambil memainkan kipas kayu, dia bercerita mengenai pelajaran di majelis taklim yang biasa dia datangi. “Ustadzah yang tadi ceramah bagus lho. Dia menganjurkan agar kita rendah diri” ujar kakak saya. Kening saya langsung mengerut sambil berujar, “haah.. rendah diri”. Saya langsung menambahkan, “mungkin rendah hati bukan rendah diri”. “oh iya, yah ”, dia pun langsung membenarkannya.

Frasa rendah diri dan rendah hati memiliki makna yang berbeda dan bertolak belakang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi IV,  rendah diri bermakna sifat yang merasa dirinya rendah dan Tesaurus Bahasa Indonesia menyematkan kata minder sebagai sinonimnya. Sementara, rendah hati menurut Kamus besar bahasa Indonesia berarti tidak angkuh dan tidak sombong danTesaurus Bahasa Indonesia menempatkan tawaduk sebagai sinonimnya.

Dalam konteks ceramah, tentu penggunaan frasa rendah diri tidak benar. Masa sih,  seorang ustadzah menganjurkan jamaahnya minder? Bukankah Islam mengajarkan umatnya bergaul dan saling mengenal? Saya kira yang dimaksudkan oleh ustadzah tadi adalah sifat tawaduk atau rendah hati. Sifat rendah hati mengandaikan seseorang tidak mengagungkan dirinya, dan berpandangan bahwa ada yang lebih baik dari dirinya, seperti kata pepatah, ada langit di atas langit.

Sebenarnya, frasa rendah diri dan rendah hati tergolong ke dalam idiom. Menurut Abdul Chaer (2002:74), idiom adalah satuan bahasa bisa berupa kata, frasa, atau kalimat yang maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan  tersebut. Definisi ini senada dengan pernyataan Harimurti Kridalaksana (1996:107) idiom adalah kontruksi yang maknanya tidak sama dengan makna komponen-komponennya. Dengan kata lain, idiom memiliki makna yang menyimpang dari unsur-unsur pembentuknya, seperti  banting tulang makna idiom ini bukan berarti kegiatan mengumpulkan tulang lalu membantingnya, melainkan bekerja keras.

Abdul Chaer (2002:75) membagi idiom terbagi ke dalam dua bentuk, idiom penuh dan idiom sebagian. Idiom penuh adalah idiom yang unsur-unsurnya secara keseluruhan sudah merupakan satu kesatuan dengan satu makna, seperti banting tulang, buah bibir, bulan madu, jual gigi. Sementara idiom sebagian, masih ada unsur yang memiliki makna leksikalnya, seperti anak angkat, banting harga, daftar hitam, unjuk gigi.

Idiom merupakan salah satu kekayaan bahasa dan lekat dengan budaya. Pengalaman saya sebagai penutur Basa Sunda, saya merasa dimanja kekayaan dan keunikan idiom, seperti idiom mumuncangeun artinya mata kaki dan berasal dari kata muncang yang artinya kemiri, kalau dipikir-pikir apa hubungannya? Apa maksudnya bentuk mata kaki mirip dengan kemiri? Pun ketika kecil saya sering menyebut seorang ibu yang sering berdandan menor dengan careuh bulan. Careuh bulan adalah hewan semacam musang dan sebagian kepalanya berwarna putih. Apa ini mendeskripsikan seseorang dengan dandanan tebal?

Kembali ke soal ustadzah tadi, saya mencoba berbaik sangka bahwa yang dia lakukan adalah salah ucap. Untuk menghindari itu, maka tidak ada salahnya mengikuti saran Abdul Chaer, membuka kamus untuk mengetahui makna sebuah idiom.

FacebookTwitterShare
Kategori:Kelanakata Tag

Pararel … Humor ala Indonesia

Pernahkah kita membaca suatu kata dalam Bahasa Indonesia yang salah dalam penulisannya? Saya rasa sebagian dari kita mungkin pernah membacanya, tetapi entah kenapa tidak menganggapnya sebagai suatu kesalahan dan bahkan menganggapnya sebagai suatu kecelakaan dalam penulisan.

Padahal, jika kita mau merenungkannya lebih dalam lagi, kemungkinan besar yang menuliskannya pun tidak tahu bagaimana cara menuliskan kata itu. Sejauh artinya masih bisa dipahami, urusan benar atau salah dalam menulis menjadi urutan paling belakang. Mungkin begitu pikiran alam bawah sadarnya membenarkan ketidaktahuannya.

Baca lanjutannya…

FacebookTwitterShare
Kategori:Kelanakata Tag