Selisik
Oleh Steve Erman Bala
Blog Tesamoko yang diluncurkan pada 1 Mei 2011 menayangkan sebuah rubrik yang dinamai “SELISIK”, sebuah nama yang menggambarkan keinginan untuk mengamati/memeriksa perjalanan pembentukan dan pengembangan makna sebuah kata (lema) dalam bahasa Indonesia, bahasa nusantara , atau salah satu ragam bahasa Indonesia. Penelisikan semacam ini umumnya mengantar seseorang kepada berbagai bahasa lain yang secara historis memiliki kaitan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI 2005, 1022), se·li·sik , me·nye·li·sik v 1 menyingkap-nyingkap (rambut, bulu) untuk mencari kutu; mengutui: - ayam ; – kepala; 2 ki mencari (keterangan dsb); mengusut dng teliti; menyelidiki: - bukti; – perkara; pe·nye·li·sik·an n proses, cara, perbuatan menyelisik: dr hasil – terdapat beberapa model permasalahan izin yg terjadi dl pembangunan lapangan golf yg meresahkan masyarakat itu.
Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia (TBI 2007: 571), 1selisik v singkap, usut; menyelisik v 1) mencari kutu, medidis, mengutui; 2) menafahus, menelaah, menelisik, meneliti, menentui, menganalisis, mengeksplorasi, menjelajahi, mengkaji, mengusut, meyelidiki, menyidik, menyigi (ki).
Makna ke-2 pada kedua buku ini mengantar kita pada satu pengertian bahwa “selisik” mengandung makna “mencari sesuatu”. Bayangkan seseorang yang sedang mencari kutu ayam di antara kelebatan bulunya atau seseorang yang sedang menelusuri halaman demi halaman sebuah buku tebal untuk “mengetahui sesuatu” yang diinginkannya, atau bahkan seseorang yang asyik membersihkan “sisik” ikan satu per satu tanpa menggunakan alat.
Unsur makna “memeriksa/mencari tahu” dapat kita lihat pada kata “sisik” yang diduga kuat menjadi asal pembentuk kata “selisik”. Dalam KBBI (2005, 1076) dijelaskan, 1si·sik n 1 lapisan kulit yg keras dng keping-keping (pd ikan, ular, kaki ayam, dsb); 2 Bot dedaunan kecil dan tidak hijau spt terlihat pd kuncup atau batang termodifikasi; minta — pd limbat, pb menghendaki sesuatu yg mustahil tercapai; ber·si·sik v ada sisiknya; mempunyai sisik; me·nyi·sik v 1 membuang sisiknya (tt ikan sebelum dimasak); 2 meraut (bambu, pensil, lidi, dsb); 3 membersihkan pohon atau batang dr duri-durinya; 4 memeriksa baik buruknya ayam sabung dng menilik sisik pd kaki ayam itu; 5 Mk menangkap ikan dng menyebarkan sisik ikan ke aliran air selokan dan menunggu ikan dng tangguk; me·nyi·siki v menyisik; 2si·sik Jk n sugi (tembakau): tembakau — ; 3si·sik n, – bentuk jenis rumput, digunakan sbg pakan ternak; Desmodium triflorum; 4si·sik Jw n, – melik tanda-tanda yg memberikan petunjuk (barang) bukti; jejak: polisi masih mempunyai waktu dan kesempatan untuk mencari – melik kejahatan itu.
Kepulauan Indonesia (nusantara dan kawasan sekitar Semenanjung Melayu), mengingatkan kita akan pentingnya “sisik” dalam hubungan dengan mata pencaharian nelayan “menangkap ikan”. Wajar jika kata “sisik” ini sudah dikenal dalam berbagai penggunaan sehari-hari sejak berarus-ratus tahun lalu. Namun, pembentukan “selisik” melalui proses morfofonemis barulah berkisar seratus tahun lalu (th. 1900-an) sejalan dengan munculnya bentuk sisipan “-el-“ pada “gigi – geligi, patuk – pelatuk, getar – geletar). Sisipan ini selain menunjukkan makna ‘pengulangan perbuatan’, juga menggambarkan ‘intensitas’.
Di lain pihak, muncul dugaan kuat “sisik” sendiri pun merupakan pengulangan bentuk “sik” yang tercipta karena terdengarnya bunyi “gesekan halus/bersuara kecil” pada saat “membersihkan kulit ikan/menggesekkan sesuatu”. Jadi, ada proses penciptakan kata “sik” secara onomatopis. Kata-kata sejenis adalah “tisik, berisik”.
Bahasa Sansekerta menunjukkan bahwa siik (zik)* = to rain in fine drops, drizzle, sprinkle, wet, moisten; to go, move, to besprinkle; to speak, to shine (hujan gerimis/kecil, muncratan air, basah, bergerak/pergi, berbicara, bersinar) (lihat dalam http://www.sanskrit-lexicon.uni-koeln.de/monier/indexcaller.php). Kemungkinan “sisik ikan” terlihat sebagai “butiran-butiran kecil air yang bersinar”. Kemungkina hujan pada bahasa Sansekerta terdengar sebagai “zik” bukan sebagai “tik” dalam bahasa Indonesia.
Siapa tahu kata “asyik/asik” pun terdengar makin asik jika mulut kita mendesahkan bunyi kecil “sik” karena kepedasan makan rujak atau terlalu asik “berbisik”. Oleh karena itu, pada saat “menyisik” diharapkan tidak menimbulkan kegaduhan agar tidak timbul suara “berisik”. Cukup dengan bunyi-bunyi halus atau suara kecil saja. Lebih asik.